Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2012

Yen Wani aja Wedi-Wedi, Yen Wedi aja Wani-Wani

Bima


Sebuah filsafat Jawa yang penuh sarat dan makna untuk mengarungi kehidupan di alam fana ini, Yen Wani aja wedi-wedi, yen wedi aja wani-wani dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai berikut; Kalau berani jangan takut, Kalau takut jangan sekali-kali berani. Filsafat ini merupakan pelajaran hidup untuk kita bagaimana kita melangkah dalam memilih jalan hidup kita.

Salah satu contoh kasus adalah apabila kita ingin membuka usaha baru, maka jangan sekali-kali kita ragu untuk melangkah, kita harus berani dalam mengambil keputusan apa yang harus kita lakukan dan kita kerjakan.

Filsafat ini mengajarkan kita untuk tidak ragu-ragu dalam memilih jalan kehidupan kita, keragu-raguan akan membuat diri kita gagal dalam kehidupan ini. Banyak contoh yang bisa kita dapat dalam menerapkan filsafat jawa yang satu ini. Dalam segala bidang kita memerlukan fisafat ini untuk selalu kita pegang teguh, dengan harapan apa yang akan kita ambil benar-benar mempunyai tekad yang bulat.

Keragu-raguan atau kebimbangan sering kali membuat kita terombang-ambing untuk mengambil keputusan. Tdak ada salahnya kalau kita bisa mengejawantahkan filsafat ini untuk selalu mendampingi setiap langkah yang kita tempuh dalam kehidupan ini.

Semoga sedikit gambaran ini bisa membuat diri kita semakin mantap dalam mengambil langkah / keputusan dalam menjalani kehidupan ini.

Rabu, 13 Juni 2012

Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh

Jawa Barat

Masyarakat Jawa Barat dalam kehidupan sehari – hari masih memegang teguh filosofi kuno dari nenek moyang, kita bisa lihat dalam kehidupan masyarakat pedesaannya masih memegang teguh filosofi tersebut. Maka tidaklah heran kalau masyarakat internasional juga mengakui akan keberhasilan masyarakat Jawa Barat, utamanya tentang lingkungan hidup.
Dan kebudayaan Jawa Barat lebih kita kenal sebagai Sunda yang ber ibukota di Bandung.
Maksud dan arti filosofi tersebut adalah menimbulkan sifat dan sikap untuk untuk saling mengasuh , saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama. Masyarakat Jawa Barat memiliki keluhuran akal budi yang di landasi oleh filsafat tersebut. Agak berbeda dengan kebudayaan masyarakat lain di Nusantara, Masyarakat jawa barat yang berbahasa sunda sangat dipengaruhi budaya yang berakar pada nilai-nilai yang berasal dari tradisi masyarakat setempat. Dan dalam interaksi sosial, masyarakat di di jawa barat menganut falsafah seperti yang sudah di sebutkan tadi.
Rasa persaudaraan menciptakan keakraban masyarakat Sunda dengan lingkungan sehingga tampak dari bagaimana masyarakat Jawa Barat, khususnya yang tinggal di pedesaan, mereka memelihara kelestarian lingkungan dengan cara penuh kerja sama dengan warga setempat.

Rabu, 28 Maret 2012

Aja Adigang, Adigung, Adiguna



Aja ADIGANG, ADIGUNG LAN ADIGUNA, ungkapan tersebut sering kita dengar dan hampir setiap waktu akan ada yang akan menyampaikan ungkapan tersebut.

Artikel kali ini saya akan mencoba mengupas tentang ungkapan adigang, adigung, adiguna sebagai lanjutan artikel 10 Filsafat Jawa.

Ungkapan adigang, adigung, adiguna merupakan salah satu filsafat Jawa yang selalu mengingatkan kita sebagai manusia social untuk tidak berlaku adigang, adigung, adiguna. Dalam jv.wikipedia.org diartikan sebagai berikut :

Adigang iku tegesé: ngandelaké marang kakuwatané. (mengandalkan kekuatannya)
Adigung iku tegesé: ngandelaké marang gedhéné. (mengandalkan kebesarannya)
Adiguna iku tegesé: ngandelaké marang kapinterané. (mengandalkan kepandaiannya)

Yang diartikan secara garis besar  yaitu “Orang jangan mengandalkan kekuatan masing – masing.

Adapun artikel dari suaramerdeka.com mengartikan “adigang, seorang pemimpin tidak selayaknya mengandalkan kekuasaannya untuk bertindak sewenang-wenang dan berlaku sombong. Adigung, berarti seorang pemimpin jangan mengandalkan kepandaiannya untuk membodohi dan membohongi rakyat. Sedangkan adiguna, berarti seorang pemimpin jangan berani dan pintar berdiplomasi hanya untuk mengingkari janji atau kebenaran (berdalih)”

Dari kedua arti yang disampaikan diatas menjadi sangat menarik ketika kedua tafsir tersebut kita jadikan satu, sehingga akan menjadi : “Seorang pemimpin sebaiknya tidak mengandalkan kekuatan, kekuasaan dan kepandaiannya untuk kepentingan pribadi”. Apabila kita artikan demikian maka filsafat Jawa tersebut menjadi sebuah pelajaran yang selaras dengan jaman yang serba modern ini. Apalagi disaat keadaan Negara kita mengalami sedikit ontran – ontran tentang kepemimpinan.

Bisa kita lihat di berita – berita bagaiman perilaku pemimpin kita yang seolah tidak mempedulikan nasib rakyatnya, disaat ekonomi masyarakat melemah mereka justru mengadakan hajatan mantu dengan biaya yang sangat fantastis, ada pula yang berfoto ria dengan gadis – gadis cantik dengan rok mini padahal mereka adalah pembantu pemimpin Negara.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa sifat adigang, adigung, adiguna selalu menyertai manusia, bahwa sifat tersebut memang sudah menjadi bawaan sejak lahir. Namun demikian bukan berarti kita membolehkan sifat tersebut berkuasa atas diri kita.

Sebagaimana dalam Serat Wulangreh ciptaan Ingkang Sinuwun Sunan Pakubawana IV :

Tembang Gambuh :

wonten pocapanipun,

adiguna adigang adigung,

pan adigang kidang adigung pan èsthi,

adiguna ula iku

telu pisan mati sampyuh

 

Kalau kita bisa meredam salah satu sifat ini, yang lain dengan sendirinya akan sirna. Mengapa demikian ? Karena ketiga sifat tersebut saling terkait satu dengan yang lain, maka apabila salah satu sifat tersebut bisa hilang atau diredam, maka yang keduanya juga ikut hilang atau keredam.

Demikian artikel tentang adigang, adigung, adiguna yang dapat saya sampaikan, semoga apa yang saya sampaikan bisa menjadi tambahan wawasan bagi kita semua dan semoga para pemimpin di Negara ini bisa meredam salah satu sifat – sifat tersebut.

Rahayu … Rahayu … Rahayu …

Senin, 26 Maret 2012

Memayu Hayuning Bawana, Ambhrasta dur Hangkara



Setelah kemarin memuat artikel tentang Urip iku Urup, selanjutnya akan saya coba kupas Filsafat Jawa yang kedua, yaitu Memayu Hayuning Bawana, Ambhrasta dur Hangkara. Semoga artikel yang saya coba sampaikan ini dapat diterima.

Memayu Hayuning Bawana, Ambrhasta dur Hangkara yang artinya kurang lebih melestarikan dunia dan isinya serta membasmi keangkaraan. Melestarikan dunia dan isinya yang dimaksud disini adalah kita sebagai manusia harus ikut melestarikan dan menjaga dunia serta isinya, hal ini merupakan ajakan yang bernilai tinggi, sebagaimana kita ketahui saat ini banyak sekali dilakukan pengrusakan bumi dan isinya, mulai dari penebangan hutan secara membabi buta, membuang sampah di sembarang tempat bahkan ada yang membuang sampah di sungai, sehingga hal ini menyebabkan kerusakan lingkungan. Ada lagi pabrik – pabrik yang membuang limbah beracun secara sembarangan. Tentunya itu semua membuat dunia ini semakin tidak nyaman dan aman untuk dihuni lagi. Betapa waskitanya orang – orang dahulu telah memberikan peringatan bahwa dunia dan isinya harus kita jaga kelestariannya sehingga anak cucu kita dikemudian hari masih bisa hidup dengan nyaman dan aman.

Ambhrasta dur hangkara yang berarti membasmi keangkaramurkaan, yang dimaksud disini adalah membasmi atau memerangi orang – orang yang merusak dunia dan isinya. Saat ini sudah banyak organisasi – organisasi yang bertujuan untuk melestarikan dunia / bumi ini. Dan mereka tak segan – segan untuk menuntut siapapun yang telah dengan sengaja merusak bumi. Aksi – aksi anggota organisasi cinta bumi ini kerap membuat para perusak lingkungan jengah.

Salah satu filsafat Jawa yang benar – benar membawa kehidupan manusia untuk berbuat kebajikan dengan ikut melestarikan bumi, dan yang perlu kita cermati adalah bahwasanya orang – orang jaman dahulu seolah – olah sudah tahu akan kejadian yang akan dating (masa depan). Perlu kiranya sedikit memberi ruang dan waktu untuk mempelajari lagi tentang filsafat jawa. Saya kira filsafat Jawa yang ada saat ini masih relevan dengan jaman yang serba modern ini.

Dalam penjabaran ini, saya hanya memakai logika saja, apabila ada kekurangan dan kesalahan kiranya pembaca sekalian dapat memberikan saran dan kritik.

Lestarikan bumi kita, berantas orang – orang pengrusak lingkungan.

Ingat, anak cucu kita masih membutuhkan bumi ini untuk berteduh dengan nyaman dan aman.

Rahayu… Rahayu … Rahayu ….

Minggu, 25 Maret 2012

Urip iku Urup

Artikel ini melanjutkan dari artikel Filsafat Jawa, dalam artikel ini sengaja kami kupas satu persatu filsafat Jawa yang telah lalu, sehingga harapannya dapat terbetuk artikel yang saling berkait satu sama lainnya. Selamat menikmati.

Wong urip iku tansah urup, tansah nduweni barokah marang liyan. Demikian yang sering kita dengar dari sesepuh – sesepuh kita dahulu. Kata – kata diatas adalah sebuah nasehat / petuah orang tua pada anaknya pada jaman dahulu, sekarang petuah – petuah tersebut udah jarang sekali kita dengar, apalagi di perkotaan.

Makna dari petuah diatas adalah bahwa kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini tidak sendiri, kita hidup didunia ini bersama dengan makhluk lain dan kita hidup berdampingan. Manusia sebagai makhluk social sudah selayaknya untuk hidup saling membantu. Ini juga terkandung dalam semua hukum agama dan hukum Negara, namun demikian tidak semua manusia bisa menyadari bahwa kita sebagai manusia sebetulnya saing membutuhkan satu sama lainnya.

Wong urip iku kudu urup biasa juga di singkat dengan urip iku urup. Urip disini maksudnya hidup kita, sedangkan urup dimaksudkan dengan menyalanya semangat kita atau memberikan cahaya untuk manusia lainnya. Jadi urip iku urup bisa kita definisikan bahwa kita sebagai manusia itu harus mempunyai  manfaat bagi orang lain. Hidup kita didunia yang hanya sementara ini kita diwajibkan saling member manfaat kepada yang lain, sehingga nantinya kita bisa mendapat manfaat dari perbuatan kita selama di dunia ini.

Tidak kita pungkiri, baik dalam agama maupun kepercayaan yang dianut manusia baik jaman saat ini maupun jaman dahulu, bahwa kita hidup didunia ini hanyalah sebuah ujian untuk mendapatkan kehidupan yang kekal yang lebih baik di kehidupan berikutnya.

Dalam agama digariskan bahwa apabila kita selama hidup didunia tidak bisa memberikan manfaat yang baik bagi orang lain (berbuat amal) niscaya di akhirat kelak kita akan menuai hasilnya dengan dimasukkannya kita kedaam neraka, dan apabila kita bisa berbuat kebaikan dan member manfaat kepada orang lain, kita akan diberikan tempat yang layak, yaitu surga. Bagaimana dengan faham yang dianut oleh kepercayaan ? Sebetulnya juga sama dengan faham yang di agama, cuman berbeda kata – kata penyajiannya saja. Seperti yang sering kita dengar dari orang tua dahulu, bahwa apabila kita didunia ini bisa berbuat kebaikan, maka dikehidupan kelak kita akan mendapat kehidupan yang baik pula.

Demikian sedikit gambaran tentang urip iku urup yang bisa kami sampaikan dalam Kampung Jawa dot com. Semoga bisa menjadi referensi kita bagaimana hidup kita semestinya.

Rahayu .. Rahayu .. Rahayu….

Kamis, 22 Maret 2012

Filsafat Jawa

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Jawa Tengah masih menganut apa yang menjadi unen-unen atau filsafat Jawa, dalam menata hidupnya, masyarakat Jawa tengah tidak lepas dari unen-unen yang selalu diberikan pada waktu kecil/masa kanak-kanak.  Sehingga unen-unen tersebut sudah merasuk kerelung hati masyarakat jawa.
Dalam era globalisasi dan modern saat ini, banyak yang mengatakan kalau fisafat jawa sudah tertinggal jaman, sudah tidak bisa / tidak layak untuk diterapkan dalam kehidupan modern saat ini, namun menurut hemat saya, justru filsafat  jawa tersebut dapat menyelamatkan hidup kita dalam dunia yang sudah tua ini.
Kita bisa lihat dan dengar, bagaimana polah tingkah manusia yang mengatakan modern.  Namun jiwa dan rasa sosialnya telah hilang sama sekali, mereka tidak punya rasa malu, yang ada hanya kesombongan diri belaka.
Di Jawa banyak sekali unen-unen yang telah menjadi filsafat  Jawa, berikut 10 Filsafat Jawa yang dapat saya sampaikan :

  1. Urip iku Urup

  2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrhasta dur Hangkara

  3. Sura dira Jaya Jayaningrat, Lebur dening Pangastuti

  4. Aja Adigang, Adigung, Adiguna

  5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

  6. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka

  7. Yen Wani aja Wedi-Wedi, Yen Wedi aja Wani-Wani

  8. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman

  9. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

  10. Urip Tansah Narima ing Pandum


Demikian sedikit filsafat Jawa yang mungkin dapat menambah pengetahuan kita tentang Filsafat  Jawa yang pada kenyataannya hal tersebut dapat membawa kita hidup di dunia yang sudah tua ini menjadi lebih aman, ayem, tentrem, dan tentunya sukses.

Sumber :

Diolah dari berbagai sumber.